× Home Politik
Ekonomi
Hukum
Gaya Hidup
Olahraga
Diskursus
Commerce
Video
Serba Serbi
Photo

Cara Menyelamatkan dan Mengembangkan Bisnis saat Pandemi COVID-19

02 September 2020
Penulis : Komang Adyana
Share :
Responsive image
Credit Photo / Kompas

Epicentrum.co.id - Masa pandemi Covid-19 memang membuat aktivitas terhalang. Hampir berbagai sektor mengalami kemerosotan tajam, namun ada sektor yang membuat kita takjub. Pertumbuhannya melesat pesat, sementara sektor lain menukik tajam. Ya, sektor internet dan digital adalah dunia tanpa batas. Tak terhalang ruang dan waktu, sektor ini menembus semuanya. Maka tak heran sektor ini malah mengalami keuntungan secara drastis.

Sebagaimana Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate mengatakan sektor komunikasi dan informasi mengalami pertumbuhan hingga 10,88 persen selama Covid-19. Sektor ini menjadi sektor yang bertumbuh positif hingga di atas 10 persen dibanding sektor lain (Liputan6, 2020).

Beralihnya era ke digitalisasi memaksa kita semua untuk beradaptasi ke dunia internet. Mau tak mau kita harus menyesuaikan dan berinovasi sesuai perkembangan zaman. Jika enggan melaksankannya, tidak menutup kemungkinan usaha yang kita bangun puluhan tahun bisa kandas di zaman revolusi digital ini.

Sebut saja perusahaan raksasa seperti; Toy ‘R’Us, Kodak, Disc Tarra, Blockbuster, Tribun.co, Taksi Barwood. Perusahaan itu kalah dihantam perusahaan yang baru tumbuh atau perusahaan yang beradaptasi era revolusi industri 4.0.

Lalu bagaimana untuk bertahan dan kembali menaikkan omzet untuk melejit sesuai misi dan visi bisnis yang kita bangun? Nah, berikut ulasannya:

1. Sadarkan Diri Bahwa Sekarang Era Revolusi Digital

Tak jarang pemimpin perusahaan atau owner kerap menyalahkan kompetitor atau anak buahnya akibat dari merosotnya bisnis yang dibangun. Padahal faktor internal yang memengaruhi cukup besar perkembangan bisnis. Perusahaan bisa runtuh kalau cara kerjanya masih menerapkan konvensional.

Sekarang bukan zaman dulu yang menawarkan produk harus menggedor rumah calon pembeli. Alih-alih membeli, malah pintu ditutup rapat karena dikira dept collector atau peminta sumbangan. Atau memanggil-manggil calon pembeli dari depan toko di pasar atau di mal, yang ada calon pembeli risih. Cara klasik seperti itu dievaluasi dari sistem kerja di perusahaan jika ingin bertahan.

Jadi sebelum melangkah lebih jauh, kita harus sadar dulu dari ilusi ingin bisnis sukses tapi menggunakan cara tradisional. Karena mindset adalah hal utama untuk melanjutkan strategi besar yang akan kita praktikkan di dunia kompetisi era digital. Siap untuk bertempur, pola pikir harus dibangun terlebih dahulu!

2. Melapisi Mental dengan Tembok Baja di Era Pandemi Covid-19

Seperti yang sudah disinggung di awal tadi, berbagai sektor terjerembab pada masa sulit Covid-19. Bahkan perusahaan sampai gulung tikar yang mengakibatkan PHK besar-besaran terjadi. Tentu kita tidak ingin perusahaan yang dibangun bangkrut, dan dengan berat hati memecat karyawan yang selama ini sudah membantu bisnis kita.

Maka dari itu, mental seorang pebisnis harus sekuat baja. Tak mempan digempur serangan dari eksternal maupun internal. Yakinkan pada diri, bahwa masa sulit akan berlalu. Ini hanya riak kecil pada samudera kesuksesan yang sudah dilalui. Ingat, seorang petarung hebat bukan sekadar jago bertarung, tapi bertahan dan menangkis serangan.

Pola pikir dan mental jika sudah konkret, selanjutnya kita lanjutkan pada strateginya.

3. Evaluasi Besar-besaran dan Mengatur Strategi Baru

Evaluasi perlu dilakukan, karena dari evaluasi itulah kita belajar dari kekeliruan dan memulihkan semanggat kerja. Mungkin sebelum pandemi Covid-19 bisnis lancar-lancar saja. Omzet stabil, bahkan cenderung naik. Tapi siapa sangka, semua berantakan karena virus ini mengusik seluruh sektor bisnis di dunia. Sehingga berkelindan dan memengaruhi bisnis kita.

Nah, evaluasi itu harus pula menghasilkan revolusi kerja agar bisa keluar dari keterpurukan. Dengan begitu kita memasang strategi apa yang tepat untuk bertahan dan menyelamatkan bisnis. Tentu saja, kita tidak menutup mata dengan perkembangan zaman yang semakin canggih ini.

Strateginya tentu saja memanfaatkan tekonologi dan marketing digital.

Persoalannya adalah sudah siapkah sumber daya manusia (SDM) di perusahaan kita? Kalau belum, tentu saja ini harus dituntaskan terlebih dahulu sebelum berkomptesi di luar.

4. SDM Perusahaan Harus Cakap Teknologi

Untuk memenangkan pertempuran di medan perang, tentu menyiapkan para kesatria kita yang hebat bertarung. Tidak mungkin mau berperang jika pasukan tidak lihai memainkan pedang, tombak, panah, dan perisai. Sama halnya dengan perang bisnis di era digital, tentu karyawan minimal bisa mengoperasikan komputer, bisa menggunakan berbagai aplikasi dan media sosial yang terus tumbuh belakangan ini.

Jadi sebelum mempelajari cara marketing digital, pastikan dulu SDM kita melek internet dan mampu mengoperasikan produk dengan teknologi. Nah, setelah mahir baru diberikan pelatihan marketing digital. Karena ini salah satu kunci keberhasilan perusahaan. Agar pelatihan itu maksimal dan menghasilkan SDM yang mumpuni di bidangnya, tak ada salahnya mengundang coach dari Codeva Academy.

Semua itu dilakukan agar pasukan kita matang di pertempuran, tidak gagap lagi, dan percaya diri karena sudah punya skil marketing digital yang hebat.

5. Bisnis Harus Terhubung dengan Internet

Kalau bisnis kita tidak bisa terlacak di internet, maka siapa pula yang tahu kita punya produk yang dijual. Mengingat sekarang rakyat mencari produk terlebih dahulu menggali informasi dari internet, seperti mencari di Google. Bayangkan perusahaan kita tidak terdeteksi digital, bagaimana pula kita bisa menangkap calon pembeli di dunia maya yang berada di Papua, Kalimantan, Sumatera, dan daerah lainnya.

Zaman sekarang pembeli itu bisa dari online, jika punya website perusahaan tentu lebih dipercaya dan dianggap profesional. Website tak ubahnya toko fisik, atau kantor, di mana tempat kita menjajakan berbagai produk. Jadi bangun website secepatnya, dan promosikan ke berbagai media sosial, seperti Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, dan media sosial lainnya.

Dan tentu saja dibantu dengan iklan, seperti beriklan di situs mesin pencari, seperti Google atau Yahoo, dan juga beriklan di media sosial.

Bisnis.com (2020) melaporkan Dalam studi Digital Consumers of Tomorrow, Here Today, Bain & Company menyatakan bahwa pertumbuhan konsumen digital di Asia Tenggara diperkirakan akan mencapai sekitar 310 juta pada akhir 2020, dengan jutaan konsumen lainnya diperkirakan akan bergabung dalam beberapa tahun mendatang.

Sementara itu di Indonesia, studi ini juga menemukan bahwa konsumen digital telah tumbuh dari 119 juta atau sekitar 58 persen dari total populasi pada 2019, menjadi 137 juta atau 68 persen dari total populasi pada 2020.

6. Manfaatkan Media Sosial sebagai Informasi dan Marketing Produk

Media sosial seperti Instagram, Facebook, Twitter, YouTube, TikTok adalah lapaknya netizen berkumpul ria. Mereka terkoneksi satu sama lain. Pada data Survei Nasional Penterasi Pengguna Internet 2018 berjumlah 171,17 juta jiwa (Bisnis.com, 2020). Masa pandemi tentu angkanya lebih meningkat lagi, mengingat beberapa perusahaan dan instansi pemerintahan menerapkan Work From Home (WFH).

Maka WFH itu secara tidak langsung memaksa pegawai atau pekerja untuk terhubung dengan internet. Dan kita tahu dunia internet adalah dunia yang begitu luas, bisa menghubungkan manusia di sudut bumi di manapun. Maksudnya adalah peluang ini memang harus dimanfaatkan untuk bisnis kita dengan media sosial yang dikelola secara profesional.

Dalam studi Digital Consumers of Tomorrow, Here Today, Bain & Company melaporkan bahwa sekitar 39 persen-49 persen konsumen di Indonesia kini membeli barang secara daring, dengan membeli paling sering dalam tiga bulan terakhir yaitu bahan makanan kemasan, bahan makanan segar, dan minuman non-alkhol (Bisnis.com, 2020).

Peluang itu tentu tidak kita lewatkan begitus saja, bangun media sosial dan isi konten yang menarik setiap hari. Karena dengan itulah calon pembeli akan selalu terhubung dengan medial sosial yang kita.

7. Jual Juga Produk di E-Commerce

Sudah sempat disinggung, dunia internet itu luas sekali. Produk kita tidak cukup hanya terpajang di website, media sosial kita, tapi juga harus terpajang di e-commerce, seperti Shoope, Buka Lapak, Tokopedia, Lazada, dan lain-lain. Maksudnya perluasan produk kita juga ada di e-commerce, agar bisa menampung calon pembeli lebih banyak lagi.

Detik.com (2020) melaporkan sebagaimana mengutip dari situs resmi Grab, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Menkop UKN) Teten Masduki mengatakan sejak pandemi terjadi penjualan e-commerce naik hingga 26 persen dan mencapai 3,1 juta transaksi per hari. Ini data cukup serius jika kita mau merenung. Apakah kita hanya menjual melalui Instagram tanpai melihat transaksi 3,1 juta transaksi per hari?

Jelas jawabannya tidak! Kita juga harus turut bertransaksi di sana. Karena penjualan di e-commerce sangat menggiurkan.

8. Visual Produk yang Menarik

Visual produk yang dipasarkan ke berbagai media harus menarik dan bagus. Tentu calon pembeli tidak merespon melihat foto atau video yang dilihat penampilannya buruk. Alih-alih mau membelinya, mendapat like saja tidak. Foto atau video produk punya peran yang cukup besar untuk menjaring calon pembeli. Ciptakan visual produk semaksimal mungkin. Bila perlu memakai jasa profesional.

Hal itu juga disampaikan oleh pakar marketing Universitas Lambung Mangkurat Arif Budiman. Arif mengakatan di era digital marketing, foto produk merupakan ujung tombak dan hal utama yang bisa menarik perhatian dan menggugah gairah konsumen untuk membeli produk yang ditawarkan (Banjamasin.tribunnews.com, 2020).

Jadi foto produk salah satu bagian penting untuk meningkatkan penjualan. Karena menjadi kepercayaan utama pembeli terhadap kita. Bisa diibaratkan, jatuh cinta pertamanya pembeli, ya, saat melihat produk kita.

9. Membuat Konten Kreatif dan Menarik

Konten merupakan informasi yang ada pada media, bisa berupa tulisan, foto, infografik, atau video. Konten itu berfungsi sebagai jalur komunikasi antara calon pembeli dan marketer. Hal yang tak kalah penting adalah untuk selalu mengingatkan kepada calon pembeli bahwasanya bisnis yang kita jalankan tetap update. Sehingga calon pembeli semakin akrab pada produk yang kita tawarkan selama ini.

Nah, dalam pembuatan konten minimal dalam sehari satu kali. Konten itu bukan kategori iklan produk, harus dibedakan. Sebatas informasi apa saja yang sesuai pada target marketingnya. Sebagai contoh jika kita menjual produk alat pertanian, kita bisa membuat konten artikel yang membahas cara membuat pupuk alami yang cocok bagi tumbuhan tertentu. Konten itu tentu sangat dibutuhkan bagi calon pembeli sebagai informasi atau ilmu baru baginya.

Kita juga bisa membuat konten infografik, karena konten seperti itu selain lebih efektif untuk netizen juga dibuat berdasarkan data dan fakta. Jadi lebih terpercaya dan menarik.

10. Membuat Event atau Lomba

Untuk mengenalkan produk lebih luas lagi dan mempereratkan hubungan emosional kepada pembeli, tidak ada salahnya membuat event atau lomba. Kita bisa membuat event seperti mengundang seorang pakar pada bidang tertentu untuk workshop online. Dan event itu diikuti oleh peserta umum secara gratis.

Lomba juga sangat bagus sebagai ajang mengenalkan bisnis kita di dunia maya. Kita bisa membuat lomba menulis, lomba fotograpy, lomba video, dan lompa apa saja sesuai dengan target dan bisnisnya.

Biasanya sang juara akan selalu mengingat momentum kemenangan itu dan menjadi “marketer” produk kita. Karena dia mendapatkan hadiah dan pengalaman saat mengikuti perlombaan tersebut.

11. Endorse Produk ke Selebgram atau Youtuber

Manager Partner Inventure Yuswohady menilai pemasaran produk melalui selebgram jauh lebih efektif dibandingkan dengan Instagram Ads. Pasalnya karakteristik masyarakat Indonesia cenderung paternalistik atau menempatkan sikap dan perilaku mengikuti tokoh panutannya (Bisnis.com, 2020).

Sebagaimana yang dikutip dari Teknobgt.com dari Global Digital Overview 2020 yang dibuat oleh Wearesocial dan Hootsuit, di Indonesia pengguna Instagram sekitar 79 persen dari pengguna media sosial yang jumlahnya 160 juta. Sedangkan YouTube penggunanya 88 persen dari 160 juta pengguna media sosial di Indonesia, atau ada sekitar 140 juta orang yang sudah menggunakan YouTube.

Berdasarkan tabiat netizen dan jumlah pengguna sebanyak itu meng-endorese selebgram dan youtuber itu sangat efektif, karena mereka punya fans yang fanatik. Pengikut mereka (selebgram dan youtuber) akan lebih percaya produk yang ditawarkan dari influencernya. Dan tentu saja ini sangat bagus sebagai penjaringan calon pembeli.

12. Email Marketing

Sirclo.com menuliskan bahwa study yang dilakukan McKinsey & Company, email marketing 40 persen lebih efektif untuk menjangkau konsumen dibandingkan Twitter dan Facebook. Karena email marketing tidak ditentukan berdasarkan algoritma seperti pada Twitter atau Instagram.

Cara email marketing memang terlihat konvensional sebelum meledaknya media sosial seperti Facebook dan Instagram. Namun sampai saat ini perusahaan-perusahaan besar masih memanfaatkan email sebagai penawaran produk.

Berinteraksi di email, alias balas membalas email tampak lebih privat. Hal ini bisa menambah ikatan emosional kepada pelanggan atau calon pembeli. Biasanya pelanggan lebih senang dan merasa dihargai kalau penawarannya secara privat.

Nah, itulah tips cara memasarkan produk melalui digital marketing yang bisa menyelamatkan dan mengembangkan bisnis saat pandemi. Karena mau tak mau kita harus beradaptasi pada era 4.0 yang menggilas siapa saja menolaknya.


Link Aseli ; [Asmara Dewo]

Komentar
Tulis Komentar
Kode Acak
Menyajikan berita terhangat dan terpercaya langsung melalui handphone anda
© 2020 Epicentrum. All Rights Reserved.