abo Pertikaian AS vs China, Dunia Bersikap Mendua | Epicentrum
× Home Politik
Ekonomi
Hukum
Gaya Hidup
Olahraga
Diskursus
Commerce
Video
Serba Serbi
Photo

Pertikaian AS vs China, Dunia Bersikap Mendua

29 Juli 2020
Penulis : Joni Andromeda
Share :
Responsive image
ilustrasi (net)

Oleh: Khalid Zabidi*

 

epicentrum.co.id - Di tengah wabah Covid-19 yang membuat dunia lunglai baik secara kesehatan dan ekonomi, ternyata tidak meredakan ketegangan diantara dua negara superpower yang tengah bertikai, Amerika Serikat dan China. Mereka saling melempar kritik dan serangan, baik secara jalan diplomasi politik maupun perdagangan. Terakhir adalah kisruh mengenai penutupan konsulat AS di Chengdu, China. Berderet masalah terseret ke dalam pusaran pertikaian Amerika Serikat dan China ini, perang dagang, kebijakan China terkait isu demokrasi di Hongkong, dibalas kebijakan terkait HAM yang diambil AS di Xinjiang, belum tuntasnya urusan hukum yang menimpa petinggi Huawei dan memanasnya kondisi Laut Natuna (Laut China Selatan).

Dunia menjadi tampak lebih kusut bagi semua pihak, baik itu dari tekanan krisis akibat wabah Covid-19 maupun suasana politik dunia. Negara-negara di dunia menghadapi situasi yang membingungkan. Kepentingan mereka terhadap kedua negara yang sedang bertikai tersebut sama tingginya. Di satu sisi menganggap Amerika Serikat sebagai mitra terpenting koalisi politik luar negeri dunia namun pada saat yang bersamaan China adalah mitra dagang strategis bagi hampir semua negara.

Kegalauan ini terlihat jelas dalam sikap dan pernyataan para pemimpin negara dunia.

Di Eropa, Jerman sebagai kekuatan ekonomi terbesar hingga kini belum menjelaskan posisinya pada kasus kisruh pada raksasa teknologi China, Huawei. Namun disisi lain tetap mengkritik Undang-Undang Keamanan Nasional yang baru saja oleh China diberlakukan di Hongkong sebagai suatu hal yang mengkhawatirkan dan pelik. Kanselir Jerman Angela Merkel ingin tetap mengutamakan kerjasama perdagangan dan usaha bersama mengatasi pemanasan dunia (climate change).

Presiden Perancis, Emmanuel Macron menganggap Amerika Serikat yang dipimpin Donald Trump sebagai mitra dari Perancis. Namun disisi lain Perancis berupaya menghindari masalah dengan Xin Jinping. Perancis menganggap langkah-langkah yang diambil Amerika dan China mengkhawatirkan mereka.

Di Asia, ketegangan di beberapa wilayah meningkat tajam, misalnya di perbatasan India dan China yang sempat terjadi perselisihan perbatasan antara tentara China dan India yang memakan korban dengan tewasnya puluhan tentara di kedua belah pihak. Narendra Modi tengah melakukan upaya berkomunikasi dengan Donald Trump dan Xi Jinping dalam mengatasi sengketa perbatasan ini ditengah menegangnya hubungan Amerika Serikat dan China. Dimana Amerika Serikat telah secara tegas menjelaskan posisinya mendukung India dalam sengketa perbatasan antara India dan China.

Korea Selatan mengalami hal yang serupa, terjepit diantara Amerika dan China. Amerika adalah mitra terpenting Korea Selatan baik secara politik, militer dan ekonomi, namun di sisi lain China juga kini merupakan mitra strategis Korea Selatan dalam perdagangan.

Memanasnya situasi di Laut China Selatan juga menyeret negara-negara ASEAN dalam pertikaian ini. China adalah negara yang sangat berpengaruh dalam bidang ekonomi dan perdagangan di kawasan namun klaim sepihak China atas Laut China Selatan dan membangun sarana militer serta insiden laut yang melibatkan kapal China Safeguard dengan nelayan ataupun kapal militer negara ASEAN di kawasan membuat negara-negara ASEAN bersikap menentang China dan dalam situasi ini Amerika Serikat ikut mengirimkan kapal-kapal militernya masuk dalam pusaran kisruh perbatasan laut ini.

Indonesia sendiri, ditengah wabah Covid-19, krisis ekonomi di kawasan dan menegangnya hubungan antara Amerika Serikat dan China belum memperlihatkan posisinya. Kerjasama ekonomi yang erat dengan China justru menguat, misalnya dengan pembangunan infrastruktur dan kawasan ekonomi di beberapa wilayah Indonesia. Sisi sebaliknya, Indonesia juga kelimpahan migrasi industri Jepang dan Amerika dari China ke Indonesia.

Bisa dikatakan sikap Indonesia dalam geopolitik dan ekonomi seperti mengarungi dan mendayung diantara dua karang.

Semoga badai pertikaian Amerika Serikat dan China cepat berlalu dan gelapnya langit akibat wabah Covid19 dan krisis ekonomi kembali cerah.

-----

*Penulis adalah Pemimpin Redaksi epicentrum.co.id

Komentar
Tulis Komentar
Kode Acak
Menyajikan berita terhangat dan terpercaya langsung melalui handphone anda
© 2020 Epicentrum. All Rights Reserved.