× Home Politik
Ekonomi
Hukum
Gaya Hidup
Olahraga
Diskursus
Commerce
Video
Serba Serbi
Photo

Spoiler Grotta Azzura (Bagian 1)

07 September 2020
Penulis : Muhammad Said
Share :
Responsive image

Oleh Misbahudin Muhammad

epicentrum.co.id - Saya menyambut dengan hati riang tawaran mengulas buku dari bang Khalid Zabidi yang percaya begitu saja, kalau saya bisa mengetahui buku penting dan perlu dibaca hari-hari belakangan. Kemungkinan karena saya dianggap memiliki kemewahan waktu untuk membaca (baca: kurang kerjaan 😁).

Saya kurang suka membahas buku baru atau ikut dalam obrolan yang menjadi trending. Mestilah keramaian perbincangan itu ada suatu maksud untuk menyita perhatian dan hajat hidup kita sebenarnya. Misalnya membahas buku Ben Blended yang mengatakan jika presiden Joko Widodoh adalah seorang manusia kontradiktif. Seorang aktivis yang sering bersuara kritis seperti Rocky Raung menyimpulkan buku itu sebagai penanda kegagalan rezim. Suara lainnya, dari pengamat politik dari Australia, Edward Aspinaldo menganggap Joko Widodoh adalah manusia zeitgeist, manusia yang lahir sesuai semangat zaman karena update dan tahu kebutuhan zaman?

Jadi anda yang sibuk dengan hajat sendiri atau saya ini manusia apa? kurang update dan tidak tahu zeitgeist?

Baiklah akan saya jawab dengan maksimal pertanyaan itu. Zeitgeist jaman ini atau hari-hari belakangan ini adalah omnibus law. Tingkat urgensi atau signifikansi omnibus law itu setara dengan sumpah pemuda 1928, polemik kebudayaan 1930, proklamasi 1945, UU penanaman modal asing 1967 (UU PMA) paska kekerasan budaya 1965, dan amandemen UUD 1945 sepanjang 1999-2020.

Arus politik dan kebudayaan akan seturut Omnibus Law, meski dikatakan kelembagaan negara melalui amandemen konstitusi sudah sedemikian tidak mudah untuk diabsolutkan oleh satu lembaga negara saja yang mesti meng-occuppy 9 lembaga negara lainnya. Kesulitan otoritarianisme itu tentu bertambah-tambah pula jika kita mengamati dengan cermat bagaimana lembaga kepemiluan (KPU, Bawaslu, DKPP) semakin professional bekerja. Pembatasan masa kuasa secara teratur adalah kunci.

*

Baiklah saya akan cari perhubungan atau tamsil dari apa yang sehari-hari saya geluti sebagai seorang pegiat buku, seorang apotebook yang menganjurkan bacaan-bacaan penting untuk membangun kemandirian pikiran bagi kolega-kolega atau teman-teman yang sedia mengikuti saran.

Pertama, soal bagaimana sejarah kekuasaan itu memiliki dialektika dan perulangan. Jika melalui berita-berita langsung dari media jurnalistik sulit kita berimajinasi terhadap kecenderungan kekuasaan dan politik hari ini, maka melalui karya sastra kita dapat meluaskan imajinasi dan analisis.

Saya kutipkan fragmen obrolan Ahmad, tokoh utama dalam novel Grotta Azzurra (pelarian politik dari partai sosialis Indonesia yang partainya dibubarkan Sukarno di era demokrasi terpimpin) dengan lima orang kenalannya di suatu restoran di Pulau Capri, Italia. Pulau ini menjadi latar belakang cerita.

Mereka adalah Alberto Gerametta dan istrinya (anggota Partai Sosialis Italia), Genesio dan istrinya (Partai Demokrat Kristen) dan Conrad Weber (profesor ilmu politik dan sosiologi dari Frankfurt, Jerman).

Beberapa lamanya diam pula orang berenam itu, sampai Weber bertanya, "Betulkah Sukarno itu seorang komunis seperti yang saya baca?"

"Pada pikiran saya, dia bukan seorang komunis. Ia tidak pro siapa-siapapun selain pro dirinya sendiri. Dan apa saja akan dipakainya, apabila ia beranggapan, bahwa hal itu akan membantunya membesarkan kekuasaan dan kemegahannya. Dalam keadaan sekarang ini pihak komunis memberinya bantuan yang sebesar-besarnya dan sebab itu rupanya ia prokomunis. Kalau tidak berguna lagi baginya, pada pikiran saya tentu akan didepaknya pula."

"Percayalah," menyela Gerametta, pihak komunis tidak sebodoh itu. Lebih baik kita katakan kalau Sukarno tiada berguna lagi bagi mereka tentu akan mereka lemparkan!"

Sekaliannya tertawa mendengar ucapan Gerametta itu. Tetapi segera Weber yang rupanya tiada puas akan jawab Ahmad maupun ucapan Gerametta yang kedua-duanya dianggapnya sangat memudahkan soal itu, bertanya pula, "Tidakkah sesungguhnya ada banyak persamaan kepentingan antara Sukarno dengan kaum komunis?"

"Tentu berjalan sejalan dengan politik komunis lebih mudah baginya. Sebagai seorang bekas pejuang terhadap penjajahan, terhadap imperialisme dan kapitalisme, semboyan-semboyannya tentu lebih dekat kepada semboyan-semboyan kaum komunis. Tetapi dalam hal itu, taklah istimewa benar kedudukannya jika dibandingkan dengan pemimpin bangsa-bangsa baru merdeka yang lain. Sekaliannya cenderung kepada sosialisme dan curiga kepada bekas penjajah mereka. Tetapi seperti kita lihat selama perang. Sukarno tidak juga keberatan memakai semboyan-semboyan imperialis Jepang. Yang terpenting baginya ialah mempertahankan kedudukannya dan memegang kekuasaan."

"Dalam keadaan keseregangan dunia seperti sekarang, sesungguhnya orang-orang yang berambisi akan kekuasaan dan kebesaran seperti Sukarno dengan mudah mendapat kesempatan sebab baik pihak Amerika maupun pihak Rusia mau saja memberi bantuan, asal keliatan kepadanya akan menguntungkan pihaknya masing-masing."

***

Fragmen itu secara gamblang menggambarkan tabiat pengejar kekuasaan (Sukarno tua) yang menggunakan populisme sebagai metode. Juga deskripsi tentang perebutan kuasa waktu itu yang nampak tidak jauh berbeda dengan perebutan kekuasaan hari ini di mana rakyat banyak, kesulitan mencerna kategori-kategori, perhubungan dan pertentangan paham komunisme, fasisme, agama dan demokrasi liberal.

Bersambung

*penulis adalah penggiat bukubergerak.id

Komentar
Tulis Komentar
Kode Acak
Menyajikan berita terhangat dan terpercaya langsung melalui handphone anda
© 2020 Epicentrum. All Rights Reserved.