× Home Politik
Ekonomi
Hukum
Gaya Hidup
Olahraga
Diskursus
Commerce
Video
Serba Serbi
Photo

(Mencoba) Membaca Sejarah dan Takdir di Grotta Azzura

09 September 2020
Penulis : Muhammad Said
Share :
Responsive image

Oleh Irvan Sjafari*

epicentrum.co.id - Grotta Azzurra merupakan karya Sastra dari Sutan Takdir Alisyahbana yang cukup sulit dicerna karena terlalu banyak filosofi dan tokoh yang dijabarkan dalam novel yang terdiri tiga bagian dengan total lebih dari 500 halaman. Itu sebabnya novel ini kurang banyak dibahas dibanding karya Takdir lainnya, namun novel ini menggambarkan betapa luas pengetahuan yang dimilki STA, betapa banyak referensi yang digunakannya, sudah itu lintas negara pula.

Kalau saya membandingkannya dengan Layar Terkembang (1937), yang sama-sama roman percintaan, maka Layar Terkembang lebih pada anak muda dan Grotta Azzura yang diterbitkan pada 1971 roman percintaan dewasa. Keduanya menggambaran zaman yang berbeda, tetapi memiliki tema yang sama soal kekaguman Takdir terhadap budaya Barat. Hanya terjadi pergeseran.

Apa yang bisa ditangkap dari Grotta Azzura?

Pertama, Setting sejarahnya kalau disimak dari dialog-dialog antar para tokoh-tokohnya, seperti Ahmad, Janet, Conrad, Evelyn, serta kolega Italianya, disebutkan Presiden Sukarno semakin mesra dengan kelompok komunis, para pemberontak PRRI/Permesta menyerah (1961) dan kembali ke Jakarta, pembebasan Irian Barat (1 Mei 1963), sesudah penembakan terhadap Presiden AS Kennedy di Dallas pada 22 November 1963, perjalanan Ahmad dan Janet beberapa bulan di Italia dan Jerman hingga mendapat kabar soal Gerakan 30 September 1965 yang kemudian diatasi oleh Mayjen Suharto, maka dipastikan settingnya pada 1965.

Tepatnya pada musim panas, ya kira-kira Juni hingga September. Karena ketika selama jalan-jalan di Italia Ahmad diceritakan pakai celana pendek seperti turis dan waktu di Frankfurt cuacanya digambarkan panas.

Kemudian Bab XXIII disebutkan empat tokoh utamanya nonton pertunjukan di Teater yang mempertunjukan kisah kekejaman Nazi pada 1945, dan waktu itu di Frankfurt ada pemeriksaan tokoh Nazi sejak 1963 hingga Agustus 1965. Jelas ketika ada di Frankfurt setting pengembaraan Ahmad pada Agustus 1965.

Sekalipun tokohnya banyak, sulit dihafal, tetapi tokoh utamanya hanya dua orang.

Yang pertama, bernama Ahmad usia 47 tahun, berarti dia lahir sekira 1918 (Sutan Takdir Alisyahbana lahir 1908) dan berusia 57 tahun pada 1965. Ahmad digambarkan sebagai simpatisan pemberontak PRRI dan kini dalam pengasingan. Pernah bekerja sebagai buruh sebuah perusahaan mobil (oto) dan kini berpelesir. Kalau saya tangkap Ahmad kemungkinan dari Minangkabau.

Sementara Janet, usianya 35 tahun, menganut Katolik, warganegara Prancis. Ayahnya profesor ahli seni abad pertengahan dan Kuno di Sorbonne dan Janet juga tertarik pada seni (terutama era abad pertengahan dan Rennaisance) bidang yang diminati Takdir.

Dalam Bagian Pertama Grotta Azzura, terkesan Ahmad terpikat sosialisme dan kerap berdialog dengan para tokoh Eropanya sosialisme. Hal yang terkait dengan penulisnya Takdir.

Bagaimana dengan Takdir? Sebagai catatan Takdir pada permulaan 1958 (sewaktu pecah peristiwa PPRI Permesta) pergi ke Eropa untuk ikut serta dalam Congres for Cultural Fredoom di Paris. Selesai dari kongres ia tidak langsung pulang ke Indonesia, tetapi ia malah menetap di Jerman bersama keluarganya.

Sutan Takdir adalah anggota Partai Sosalis Indonesia (PSI) yang didirikan Sjahrir. STA ini masih berkerabat dengan Sjahrir , karena ibu STA berdarah Minangkabau. Dia pernah jadi anggota parlemen dan Konstituante. Sebagai anggota PSI, STA pernah duduk jadi anggota parlemen pada 1945 hingga 1949 dan juga menjadi konstituante.

STA menikah tiga kali. Istri pertamanya adalah Raden Ajeng Rohani Daha (menikah tpada 1929 dan wafat pada 1935) yang masih berkerabat dengan STA. Dari R.A Rohani Daha, STA dikaruniai tiga orang anak yaitu Samiati Alisjahbana, Iskandar Alisjahbana, dan Sofyan Alisjahbana.

Pada 1941, STA menikah dengan Raden Roro Sugiarti (wafat tahun 1952) dan dikaruniai dua orang anak yaitu Mirta Alisjahbana dan Sri Artaria Alisjahbana. Dengan istri terakhirnya, Dr. Margaret Axer (menikah 1953 dan wafat 1994), STA dikaruniai empat orang anak, yaitu Tamalia Alisjahbana, Marita Alisjahbana, Marga Alisjahbana, dan Mario Alisjahbana.

Saya agak sulit mencari siapa Margaret Axer, tetapi dari berbagai sumber disebutkan Doktor Filologi dari Jerman. Pernikahan dengan berbeda bangsa ini bisa jadi memudahkannya menciptakan tokoh Janet.

Latar belakang pendidikan STA,setelah menamatkan sekolah HIS di Bengkulu (1921), STA melanjutkan pendidikannya ke Kweekschool, Bukittinggi. Kemudian dia meneruskan HKS di Bandung (1928), meraih Mr. dari Sekolah Tinggi di Jakarta (1942).

Dari segi Sutan Takdir Alisjahbananya

Pada 1930-an kebudayaan nasional seharusnya merupakan suatu kebudayaan modern yang mampu menjadikan bangsa Indonesia dapat bersaing dengan bangsa-bangsa lain yang telah maju.

Layar Terkembang 1937, simbol budaya Barat ini ada di Tuti dan adiknya Maria adalah yang memegang Barat dari kulit luarnya. Takdir ada di Tuti. Ketika tokoh Maria meninggal, Jusuf menikah dengan Tuti saya tafsirkan sebagai kemenangan rasionalisme Barat. Perkenalan Tuti, Maria dengan Yusuf di sebuah display akuarium di Jakarta sebetulnya sebangun pertemuan Ahmad dan Janet di atas kapal. Tuti adalah aktivis politik perempuan Putri Sedar, meneriakan emansipasi yang wkatu itu masih diperjuangkan sibuk dengan kongresnya, adiknya duduk di bangku SMA dan Yusuf mahasiswa kedokteran.

Tuti melakukan sesuatu berdasrakan pemikiran yang matang dan lugas, kalau Maria juga berpendidikan dan bergaya Barat tetapi hanya kulit luarnya saja, sementara Tuti sudah rasio. Keluarga Tuti dan Maria priyayi memberi restu pada hubungan Yusuf dan Maria, tetapi akhirnya takdir menentukan lain.

Pada Grotta Azzura, Takdir itu ada di Ahmad dan Janet adalah dialognya dengan Barat. Tetapi di akhir cerita (terpaksa spoiler) Ahmad kembali ke Indonesia ke istrinya (dia sudah punya anak tiga) sesudah peristiwa G 30 S PKI. Grotta Azzura seperti revisi pemikiran Takdir soal Baratnya pada 1938. Kalau pada 1938 dia tampak kukuh, pada Grotta Azzura dia lebih bijak dan melihat Barat lebih bijak.

“Demikianlah ketika tahun 1971 terbit Grotta Azzurra, pada hakekatnya saya hanya menarik konsekuensi dari pendirian yang saya rumuskan dalam tahun 1938. Indonesia menjadi dunia, soal-soal masyarakat dan kebudayaan Indonesia menjadi soal-soal masyarakat dan kebudayaan dunia,”kata Takdir dikutip dari. (Tirto --- https://tirto.id/terpana-pada-barat-sutan-takdir-pun-meninggalkan-kebudayaan-usang-cPid).

Kira-kira apa sih yang digagas Takdir dalam Grotta Azzura. Saya menemukan pernyataan Takdir di Majalah Prisma Nomor 11 1984 “Perbenturan dengan Barat”, di rubrik Dialog “Terlalu Halus, Itulah Kelemahan Kita”

Kata Takdir Kebudayaan Rennaisance tidak berkembang di negeri kita. Sebelum bertemu Barat, kita dikusai oleh kebudayaan Hindu yang lekat dengan spritualisme. Pada masyaraat kita kebudayaan estetika terlalu kuat. Semua soal sellau dihubungan dengan estetika dan kehalusan. Ia tidak dihubungkan dengan rasio.

Ketika Islam datang pun, yang kita terima hanyalah Islam yang sudah jatuh, yaitu Islam Al Ghazali, setelah buku-buku Ibnu Rusd dibakar di Cordova. Ia tidak lagi membawa ilmu dan juga tidak membawa manusia baru. Padahal, dari semula Islam menekankan ilmu. Dan harus diingat, Nabi Muhammad adalah seorang saudagar.

Soal Al Ghazali dan Ibnu Rusd dibahas di Bagian II Grotta Azzura, sekalipun lebih meyerupai sejarah seni, pada Bab XXX (30) mellaui diskusi antara Ahmad dan Profesor Salutati. Para penguasa Islam mendapat berksah dari ilmu dari Yunani Romawi ketika Kaisar Yutitian menutup Akademi Neoplato di Athena pada 592, para sarjana Yunani banya melarikan diri ke Parsi. Singkatnya ilmu dari Reinaisans berkembang di wilayah Islam tentunya diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab. Ilmu pengetahan berkembang di antaranya ilmu astronomi, botani dan sebagainya. Kalifah-kalifah membuka siapa saja yang mau belajar tanpa memandang agama, Baghdad di bawah Harun Al Rasyid dan penggantinya memajukan ilmu pengetahuan dan ada perguruan tinggi, lalu di Cordoba ada perpustakaan yang punya koleksi 400 ribu naskah (luar biasa masa itu).

Kemudian muncul Al Gazhali yang menyerang Ibu Rushd dari Kordoba mellaui tulisannya. Al Gazhali ini wakil kelompok yang kukuh memegang ayat-ayat suci dan Ibnu Rushd yang memakai akal sehatnya. Hal yang sama juga terjadi di Kristen hal 364-365.

Kesan saya lainnya, hingga 1950-an Sutan Takdir masih menganggap Sukarno sebagai tokoh yang dikaguminya. Sukarno diharapkan sebagai rennaissance-nya Indonesia, membawa kemajuan, membawa modernisasi, namun kemudian Sukarno dipandang lebih dekat ke spiritualismenya, dengan ke-Jawa-annya. Sukarno menjadi ditaktor dan mengabaikan demokrasi bahkan dalam sejumlah dialog dalam Bagian Satu Sukarno dibandingkan dengan Hitler dalam berapa hal.

Kemudian datang Orde Baru, Takdir pun menganggap ada harapan baru modernisasi, penguasaan llmu dan teknologi. Catat Grotta Azzura ditulis pada 1971, jangan dibawa ke era selanjutnya Orde Baru mulai mendapat kritik, apalagi zaman sekarang.

Tentu saja Takdir juga tidak adil menilai Sukarno pada 1960-an. Ya, memang kesalahan Sukarno berat kepada Komunis, meninggalkan kawan-kawannya dulu seperti Hatta, Sjahrir, yang notabene founding fathers juga. Sukarno itu menggagas Reaktor Atom di Kota Bandung dengan Siwabessy-nya, dimulai pada 1961 dan diresmikan pada 1965. Pada era Demokrasi terpimpin.

"Dalam peri kehidupan kita harus berfantasi. Kita harus melihat jauh ke muka dan janganlah terkena jiwa perkututisme. Janganlah mengadakan lagi kontes perkutut, sebab perbuatan ini berakibat mental kepada rakyat sehingga berjiwa perkututisme, yaitu ajem mentjeti perkutut dengan hidangan air teh panas yang kental. Kita jangan mandeg, tapi harus terus maju. Apalagi dalam zaman revolusi ruang angkasa sekarang ini dalam revolusi pancamuka..."

Soekarno juga menyampaikan, mahasiswa sekarang jangan sama pengetahuannya dengan mahasiswa masa dia dulu. "Anak sekolah sekarang harus mendapat pelajaran khasiat atom," ujar Soekarno pada Minggu pagi 9 April 1961 (Pikiran Rakjat, 10 April 1961).

Sukarno juga sadar bahwa orang Indonesia harus menguasai ilmu dan teknologi. Hanya saja tampaknya dia tidak punya konsep ekonomi dan juga tim ekonominya. Para ekonom yang bagus justru dari PSI, seperti Soemitro yang notabene lawannya. Soekarno terllau hanyut dengan fantasi revolusinya.

Sebagai catatan, Sukarno juga mengirim anak-anak Indonesia ke luar negeri untuk belajar dan aneh juga tokoh Ahmad tidak digambarkan, pernah bertemu dengan mereka. Ketika Sukarno jatuh, mereka yang dianggap pro PKI atau berseberangan dengan Orde Baru tidak pulang, ironis memang, seperti halnya lawan politik Sukarno yang harus berada di luar negeri pada era Demokrasi Terpimpin.

Untung ada Bab 36, di kota Koln Ahmad diceritakan bertemu orang-orang Indonesia yang merupakan teman seperjuangannya, Salam berusia 45 tahun, Sadikin 25 tahun, Muhidin, Rahman, serta Santoso 35 tahun. Sadikin dan Santoso diceritakan pelarian dari negeri Belanda, sementara Muhidin dan Rahman di Paris. Mereka mengadakan reuni kecil sambil membicarakan kondisi tanah air.

Bab ini merupakan satu-satunya yang menggambarkan cukup detail interaksi Ahmad dengan orang-orang Indonesia. Rentang usia mereka cukup jauh, tidak dijelaskan siapa mereka seperti halnya Takdir menjelaskan tokoh-tokoh berkebangsaan Italia, Jerman, Amerika Serikat yang bergaul dengan Ahmad. Namun ini menarik, membayangkan suasana masa itu betapa susahnya menemukan masakan Indonesia sudah tiga tahun lebih tidak dirasakan.

Hal lain yang menjadi tanda tanya saya ialah beberapa bab terakhir bagian Tiga di mana tokoh Ahmad mendapatkan informasi dari surat kabar Jerman, kemudian dari BBC tentang peristiwa Gerakan 30 September intepretasi sebangun dengan versi buku Nugroho Notosutanto dan Ismail Saleh dan umumnya pandangan penguasa Orde Baru. Sah saja, Takdir memilih versi itu. Tetapi yang jadi tanda tanya saja, apa iya berita di surat kabar di Jerman itu sebangun dengan versi surat kabar yang di Indonesia?

Bagian Pertama Grotta Azzura bertajuk “Tercitanya Cinta: Capri-Sorrento” merupakan awal perjalanan Ahmad, seorang pelarian PRRI sejak awal sudah diperkenalkan, dengan situasi politik Indonesia. Ketika teman-temannya menyerah satu persatu dan kembali ke Jakarta, Ahmad memilih kata tidak. Pemerintah Sukarno mencetak uang hingga membuatnya tidak berharga.

Namun poin yang menarik Ahmad pendukung otonomi daerah tepatnya federasi, baginya hampir semua negara besar (dan makmur) adalah federasi), seperti AS, Kanada, Australia, Jerbar. Ahmad menuding Jakarta ingin seluruh Indonesia misin daripada bagian-bagian Indonesia kaya, lebih makmur dari Jakarta (halaman 6).

Poin lainnya ialah mentalitas dan kelakuan orang Indonesia mesti beurbah dan hal ini hanya mungin dalam suatu kebudayaan sikap hidup dan kebudayaan yang baru. Negara maju dan makmur karena mengaup ilmu dan industri modern.

Di atas kapal pesiar dia berkenalan dengan Janet dan akhirnya menemani perjalanannya. Merea mengunjungi Grotta Azzura, sebuah gua biru yang terkait zaman Yunani Romawi, yang menjadi judul novel ini. Harus berpikir gua ini simbol apa? Apa mungkin pencerahan.

Bisa ditebak Ahmad dan Janet saling jatuh cinta. Sekalipun Ahmad sudah beristri dengan tiga anak terungap pelan-pelan. Mereka sama-sama kesepian. Ini romannya.

Tokoh lain seperti Conrad Weber, ahli ilmu politik dan filsafat dari Universitas Frankfurt, menjadi teman berdialog utama Ahmad soal filsafat dan politik. Ada juga Evelyn Turner dari Amerika Serikat yang kehadiran cukup penting sebagai pelengkap Conrad. Lainnya adalah seperti narasumber Ahmad misalnya Alberto tentang partai politik di Italia yang ada partai sosialis dan parati Demokrat Kristen. Ahmad diceritaan anggota PSI yang pada 1960 merupakkan partai terlarang. Mengapa Conrad dari Jerman, mungkin karena STA tinggal di Bonn? Ada dialog antar mereka membandingkan Suarnod an Hitler sebagai ahli pidato besar dan pandai membuat mitos. Kalau dengan Janet lebih pada roman, sementara Ahmad dengan Conrad dan tokoh-tokoh pria umumnya soal berdiskusi soal politik. Ada juga sebuah dialog antar Janet dan Evelyn soal feminisme.

Bagian kedua bertajuk Cinta Memberi Cita Napoli –Firenza terdiri atas 15 bab (XVIII—XXXII), tampaknya hanya bercerita soal sejarah seni terutama Rennaisans. Sementara hubungan Ahmad dan Janet hanya menjadi pembuka dan penutup bab. Ceritanya sebetulnya berkisar wisata ke Napoli hingga Firenza (atau Florence) sambil mengupas tentang seni.

Misalnya saja di Napoli ada lukisan mozaik Pasukan Berkuda Iskandar Zulkarnain (bab XVII), diselingi Ahmad menerima surat pemerintah Jakarta tidak memberlakukan kawan-kawannya seperti apa yang dijanjikan. Dari istrinya anak bertanya apakah ayahnya (Ahmad) membawa oleh-oleh? Mereka menginap di Hotel Turino (sebetulnya jadi tanda tanya uang Ahmad begitu banyak ya?)

Pada Bab XIX mereka mengunjungin Pameran Seni lukis moden, lalu pembaca diperkenalkan dengan pelukis-pelukis dari berbagai aliran, sepertidari abstrak Vassily Kadinsy hidup anatara1866-1944, Piet Mondrian 1872-1944, dari impressionisme ada Claude Moret 1840-1926, Camile Pisaro 1830-1903.

Yang menarik saya melalui tokoh Gaspari pada Bab XX bercerita: Kita di Italia sudah lama tidak lagi hidup dari inspirasi kebudayaan kebangsaan Italia. Italia dibanjiri oleh turis-turis dari seluruh dunia yang membawa gaya hidupnya. Orang Italia mmebuka diri mengunjungi dunia lain (halaman 228)

Ahmad bertanya jadi kebudayaan Italia tidak ada lagi yang ada hanya kebudayaan dunia? Di sini kesan saya STA sudah memproyeksikan globalisasi (sekali lagi buku ini ditulis awal 1970), jauh sebelum isu hangat dua dekade sesudahnya (1990-an).

Bab XXX seperti yang saya singgung di atas mengkritisi kebudayaan Cina (Tiongkok), Hukum Romawi dianggap berasio menjadi dasar hukum negara-negara di Eropa dan Arab.

Bagian ketiga 16 bab (XXXIII—XLVIII) poinnya kritik terhadap Sukarno, dampaknya, soal kedekatannya dengan komunisme dan peristiwa Gerakan 30 September yang membawa dampak pada hubungan Ahmad dan Janet.

Bab yang saya sorot di bagian ini ialah Bab XXXIII ketika Empat tokoh Ahmad, Janet, Conrad dan Evelyn nonton Die Emmirtelug (terkait soal Nazi dan orang Yahudi) di Gedung Teater. Proses pengadilan di Frankfurt antara Desember 1963 hingga Agustus 1965. Bab ini menceritakan kekejaman Nazi pada orang Yahudi pada masa PD II.

Begitu juga dengan Ahmad pertama kali berdansa rock n Roll. Dialog Ahmad dan Janet soal perkembangan musik di Barat mulai dari Jazz hingga Rock n Roll. Janet menyebut kaum muda kecewa dengan Jazz karena tidak mudah didansakan. Orang harus penuh perhatian mendansakannya karena penuh improvisasi...sementara rock n rolll anak muda bisa melakukan gerakan sesukanya berdasarkan alam bawah sadarnya.... halaman 401

Tahun 1950-an memang ada pergeseran dansa dari yang kalem hingga dansa rock n roll juga di Indonesia. Sukarno menentang rock n roll karena dianggap bertentangan dengan kepribadian Indonesia, padahal anak muda menyukai begitu saja karena energik dan tidak memikirkan sampai ke sana dan belum tentu kehilangan kepribadiannya. Selain rock n roll, dansa juga sudah dikritik terutama di Kota Bandung di mana banyak bermukim mahasiswa bahkan pada Februari 1957 sempat ada demo di Kota Bandung yang menentang perglaran rock n roll. Perkembangan musik juga dibahas ada Nat King Cole, James Brown, (aneh juga STA tidak menyebut Elvis Presley dan kelompok Bill Hailley) yang lebih berpengaruh?

Lewat tokoh James, anak muda setempat paham rock n roll, Ahmad mendapat penjelasan rock n roll..pukulan rock n rolll itu menyerap dan menguasai segala sesuatu mendesa berdansa dengan segala jiwa bebas.

Bagian ini diakhiri dengan Ahmad mendengar kabar perkembangan di tanah air, yang juga sudah saya singgung di atas.

Secara keseluruhan Grotta Azzura memberikan banyak pengetahuan filsafat, budaya dan sejarah lintas negara. Tetapi sebagai sebuah cerita rasanya terlalu berat untuk memahami perlu waktu yang banyak dan seminggu membaca buku ini belum cukup bagi saya.

*penulis adalah sejarawan publik

Komentar
Tulis Komentar
Kode Acak
Menyajikan berita terhangat dan terpercaya langsung melalui handphone anda
© 2020 Epicentrum. All Rights Reserved.