× Home Politik
Ekonomi
Hukum
Gaya Hidup
Olahraga
Diskursus
Commerce
Video
Serba Serbi
Photo

Pameran Mengenang 150 Tahun Mahatma Gandhi di DPR RI

06 Oktober 2020
Penulis : Komang Adyana
Share :
Responsive image
Credit Photo / Istimewa

Oleh: Khalid Zabidi

Epicentrum.co.id - 
Mahatma merupakan gelar yang disematkan oleh pujangga India Rabindranath Tagore kepada Mohandas Karamchand Gandhi. Mahatma dalam bahasa Sanserkerta mempunyai arti Maha yang artinya besar dan Atma yang artinya Jiwa, Mahatma adalah Jiwa Besar. Gandhi juda mendapatkan panggilan istimewa yaitu "Bapu" panggilan sayang untuk "Bapak" atau "Ayah".

Mohandas Karamchand Gandhi lahir di Porbandar, Gujarat, India Britania pada tanggal 2 Oktober 1869 dengan etnis Gujarat dan meninggal dunia pada 30 Januari 1948 dengan mengenaskan karena ditembak seorang fanatis.

Mahatma Gandhi salah satu figur terpenting dalam perjuangan kemerdakaan India melawan penjajahan Kerajaan Inggris. Gerakan kemerdekaan melawan kolonialisme Gandhi telah menjadi inspirasi bagi negara-negara jajahan lain yang dijajah Inggris.

Perjuangan Mahatma Gandhi dikenal dengan perjuangan yang tanpa kekerasan atau ahimsa dan jalan yang benar Satyagraha. Menggerakkan perlawanan rakyat dengan cara-cara damai tanpa kekerasan. Salah satu perlawannya Mahatma yang mampu menggerakkan jutaan orang India adalah Pawai Garam atau Pawai Dandi pada 12 Maret 1930. Selama 24 hari berjalan 390 kilometer dari Sabarmati Ashram menuju desa pesisir di Dandi. Gandhi mengajak rakyat India untuk memproduksi garam sendiri untuk menghindari hukum garam dari pihak Inggris. Pawai Garam yang dilakukan Mahatma Gandhi mendapat sambutan dahsyat dari rakyat India, pawai yang tadinya hanya diikuti oleh 79 orang pengikut Gandhi yang berusia 20 hingga 30 tahun membesar menjadi puluhan juta orang memproduksi garam mereka sendiri sehingga Hukum Garam Kerajaan Inggris yang mengharuskan rakyat India membayar pajak garam runtuh mendapat pembangkangan sipil (civil obidience) terbesar sepanjang sejarah perjuangan kemerdekaan sebuah negara jajahan.

Pameran Untuk Mengenang Mahatma

Inspirasi itu yang kini dikenang dunia, sosok pemuda cerdas, seorang pengacara bertransformasi menjadi manusia sederhana "setengah telanjang" seperti apa yang pernah dikatakan Winston Churcill berhasil meruntuhkan dominasi Kerajaan Inggris Raya. Kini, 150 tahun kemudian inspirasi Mahatma Gandhi masih terasa sangat relevan. Dunia masih belum terbebas dari penjajahan dan kekerasan demi kekerasan atas manusia terhadap manusia lainnya masih terjadi setiap hari.

Kehadiran sosok fenomenal dunia ini kini dikenang oleh 14 orang seniman, mereka adalah para pengajar dan alumni Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Karya seni rupa mereka mengisi ruang publik di Gedung DPR RI dari 2 Oktober hingga 9 Oktober 2020. Acara mengenang 150 Tahun Mahatma Gandhi ini di buat atas kerjasama Kedutaan India, Indian Council for Cultural Relation dan IKJ dengan tajuk "150 Years Celebrating The Mahatma" dalam bentuk pameran seni rupa.

Tema pameran ini mengambil pesan kuat yang pernah di bawa oleh Mahatma Gandhi sendiri, yaitu Kebenaran, anti kekerasan dan Satyagraha. Dari ke 14 seniman yang berpameran sebagian besar menampilkan figur Mahatma Gandhi dalam bentuk potret diri Gandhi. Tidak bisa dipungkiri, gesture, wajah dan tubuh Mahatma Gandhi sangat ikonik, dengan tumbuh kecil, mengenakan kacamata bulat khasnya dan pakaian sederhana kain hasil tenunannya sendiri telah merepresentasikan Gandhi dalam dua ingatan dunia, pada tubuhnya dan pada inspirasi perjuangannya. Dengan menggambarkan Mahatma Gandhi kita langsung bisa mengetahui, merasakan dan tergerak hanya dengan melihat wajah dan tubuhnya.

Misalnya Adityayoga walau menampilkan stilasi wajah Gandhi dengan komposisi warna dan bentuk, tidak nyata langsung wajahnya, kita masih bisa melihat wajah unik Gandhi atau karya Dolorosa Sinaga "Jiwa Besar" yang menampilkan Gandhi dalam bentuk grafis hitam, putih dan merah dengan konfigurasi teks tulisan Ahimsa, Satyagraha membentuk gesture ikonik Gandhi.

5 seniman memilih cara berbeda menampilkan inspirasi Mahatma Gandhi, mereka menggunakan idiom lain yang lebih simbolik.

Wagiono, seniman dan pengajar senior IKJ misalnya menyajikan 2 karya gambar tinta hitam di atas kertas yang sama sekali tidak menyuguhkan wajah dan tubuh Gandhi melainkan menggambarkan deretan rumah kumuh, Wagiono dalam captionnya menyatakan bagaimana negara berkembang agraria menghadapi modernisasi.

Denny Rosanto dengan teknik Lino cut atau cetak cukil karet menggambar sebuah stilasi pohon yang besar dengan warna tunggal kontras dengan warna kertasnya dengan judul Jendela Kehidupan seolah sedang menyiratkan bahwa Gandhi adalah seperi pohon besar yang mengayomi penuh kehidupan di dalam pohon itu.

Kendra Paramita seorang ilustrator yang karyanya sering mengisi halaman cover depan Majalah Tempo menggambar sebuah jembatan batu bata dengan tonggak- tonggaknya adalah sepasang lengan dan kaki manusia seolah sedang memanggul jembatan dengan kereta sedang melaju digambarkan sederhana hitam putih menggunakan arang di atas kertas, karya yang kuat bagaimana Gandhi digambarkan sebagai sebuah jembatan yang ditopang oleh tangan dan kaki manusia yang berkorban untuk menyeberangkan manusia-manusia modern India dari penjajahan menuju kemerdekaan.

Karya 14 seniman IKJ ini sangat menarik dan kuat. Aneka teknik seni cetak dan gambar (drawing) menampilkan semua aspek yang ada dalam sosok Mahatma Gandhi, soal persona, misi Ahimsa dan Satyagrahanya.

Selain karya seni rupa dari 14 seniman IKJ juga ada sejumlah dokumentasi berupa foto perjalanan Mahatma Gandhi yang dipamerkan. Foto hitam putih menggambarkan perjuangan aktivis, politisi dan petapa modern memerdekanan bangsanya.

Inspirasi Gandhi tidak akan ada habisnya untuk dikenang, untuk ditulis dan untuk digambar. Tulisan hanya menjadi teks demikian juga gambar hanya menjadi kertas namun gerakan kemanusiaan Mahatma Gandhi akan terus diingat oleh anak manusia bahwa kemerdekaan, kesetaraan dan kemandirian merupakan hak asasi manusia yang harus terus diperjuangkan dengan jalan yang benar dan tanpa kekerasan.

Pameran seperti ini untuk mengenang Mahatma Gandhi ini seakan membantah komentar yang pernah dikatakan Albert Einstein soal Mahatma Gandhi, "(mungkin) para generasi berikut akan sulit mempercayai bahwa ada orang seperti ini yang pernah hidup di dunia ini," Karena kami percaya.


Khalid Zabidi; Pemerhati Seni

Komentar
Tulis Komentar
Kode Acak
Menyajikan berita terhangat dan terpercaya langsung melalui handphone anda
© 2020 Epicentrum. All Rights Reserved.