× Home Politik
Ekonomi
Hukum
Gaya Hidup
Olahraga
Diskursus
Commerce
Video
Serba Serbi
Photo

31 Desember 1799: Benarkah VOC Bangkrut Karena Korupsi?

31 Desember 2020
Penulis : Muhammad Said
Share :
Responsive image
Lukisan Het Kasteel van Batavia karya pelukis Belanda, Andries Beeckman, dibuat pada 1662-1663, kastil ini didirikan Gubernur Jenderal VOC yang paling terkenal dalam sejarah Indonesia, Jan Pieterzoon Coen.

epicentrum.co.id - Dalam buku sejarah yang diajarkan di sekolah, diceritakan bahwa pembubaran Vereeniegde Oostindische Compagnie (VOC) atau Kongsi Dagang Hindia Timur oleh Pemerintah Republik Belanda pada 31 Desember 1799 adalah akibat bangkrut karena korupsi.

Sehingga dalam bahasa Belanda, VOC diplesetkan menjadi ‘Vergaan Onder Corruptie’ atau ‘Runtuh Lantaran Korupsi’.

Pertanyaannya, benarkah cerita tersebut? Jawabannya adalah benar dan tidak.

Dalam ‘Jan Kompeni: Sejarah VOC dalam Perang dan Damai 1602-1799’, CR Boxer menyebut jika sejak pertengahan abad ke-17, Heeren Zeventien atau Tujuh Belas Tuan pemimpin kongsi dagang multinasional terbesar dalam sejarah tersebut kesulitan mengatur anak buahnya.

Para Tujuh Belas Tuan ini menaruh curiga terhadap anak buah mereka yang bekerja entah di Hindia Timur, Tanjung Harapan, India, Malaka, Deshima dan pos-pos dagang lainnya.

“Mengenai mutu para abdi VOC, entah ini pedagang, pendeta, pelaut atau serdadu, kebanyakan pendapat masa itu mengenai mereka sangat kritis, Heeren XVII sejak mulanya menaruh kecurigaan terhadap bawahan mereka di Timur, terus-menerus. Para pengurus cenderung meragukan kejujuran mereka dan efisiensi mereka,” tulis Boxer.

Boxer menulis, Heeren Zeventien ikut bertanggung jawab karena membuat keputusan yang keliru. Mereka membiarkan para pejabat VOC menjalankan bisnis pribadi di pos dagang yang tersebar luas di mana-mana.

Pada awalnya mereka melarang segala bentuk kegiatan di luar kepentingan negeri Belanda. Tetapi dengan pertimbangan rendahnya gaji para pegawai, larangan-larangan itu akhirnya terabaikan. Akhirnya banyak praktek berjalan tanpa sepengatuan Heeren Zeventien.

“Tidak dapat disangkal bahwa banyak mereka yang tidak baik wataknya bekerja pada VOC dengan tujuan memperkaya diri, secepat mungkin, dengan daya apa saja,” tulis Boxer.

Heeren Zeventien juga dianggap memberi solusi tidak tepat terhadap perusahaan. Pada 1630 para pejabat VOC di Batavia, Hindia Belanda mengirim surat kepada Heeren Zeventien diberi serdadu yang baik kualitasnya. Namun mereka malah memberi serdadu dengan pengalaman serta watak yang buruk.

“Lagi-lagi begitu banyak orang yang bejat dan tidak berpengalaman di antara mereka yang baru saja tiba di sini (Batavia) hingga beberapa orang nakhoda dan perwira menyatakan keheranannya bahwa kapal-kapal sempat juga bisa selamat sampai ke mari,” tulis Gubernur Jenderal Carel Reyniersz dalam salah satu suratnya.

Terlibat Peperangan Dengan Inggris

Sejarawan Universitas Gadjah Mada Sri Margana menambahkan, keterlibatan VOC dalam berbagai peperangan di Jawa, Sulawesi, dan Maluku, yang memakan kas perusahaan dalam nominal yang tidak sedikit.

Pemerintah Republik Belanda sendiri dalam octroi pendirian VOC memberikan hak mendirikan benteng, membentuk angkatan perang dan mengadakan perjanjian dengan negara lain kepada perusahaan multinasional pertama dalam sejarah tersebut, sehingga VOC dapat terlibat perang tanpa harus meminta izin dari pemerintah

Reinout VOS dalam ‘Gentle Janus, Merchant Prince: The VOC and The Tightrope of Diplomacy in The Malay World 1740-1800’ menyebut jika perang dengan Inggris pada 1780 telah menguras 70% dari seluruh aset VOC.

Bahkan, Pemerintah Belanda dan VOC memihak Amerika dalam perang kemerdekaannya melawan Inggris sejak tahun 1774. Para saudagar Belanda atau biasa disebut burgher membantu Tentara Revolusioner Amerika dengan perlengkapan perang, makanan dan uang.

Para burgher ini adalah keturunan warga bekas koloni Nieuw Nederland dan pelabuhan Nieuw Amsterdam. Saat Inggris mengalahkan Belanda dalam Perang Ketiga tahun 1665-1667, Nieuw Nederland direbut Inggris dan kota Nieuw Amsterdam diubah namanya menjadi kota New York sampai hari ini. Kekalahan tersebut menyebabkan warga keturunan Belanda memihak warga koloni Amerika saat perang kemerdekaan.

Saat Presiden kedua Amerika John Adams, menjabat Duta Besar Amerika kepada Belanda pada tahun 1782, ia berhasil meyakinkan para bankir Belanda termasuk Heeren Zeventien VOC untuk meminjamkan uang sebesar 2.1 juta dolar Amerika, senilai dengan 150 juta dolar AS dalam nilai tahun 2018.

Koloni VOC Menjadi Hindia Belanda

Pada 1 Januari 1800, Staten Generaal atau Dewan Negara Belanda menyatakan seluruh bekas pos dagang dan wilayah belakang VOC menjadi Hindia Timur milik Belanda atau Nederlandsche-Indië yang dalam sejarahnya berekspansi hingga menjadi embrio Indonesia modern sejak masa Gubernur Jenderal J.B. van Heutsz, dengan batas-batas wilayah yang tidak berubah hingga hari ini.

Bisnis-bisnis di bawah VOC dinasionalisasi oleh Pemerintah menjadi beberapa perusahaan dagang, yang terbesar di antaranya adalah Nederlandsche Handel Maatschapij (NHM) yang didirikan pada tahun 1824 dan pada tahun 1957 dinasionalisasi oleh Presiden Soekarno menjadi Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim).

Sementara NHM sendiri di Belanda berkembang operasi dan jangkauan wilayahnya menjadi perbankan multinasional, bergabung dengan De Twentsche Bank menjadi Algemeene Bank Nederland (ABN) pada tahun 1960 dan sejak 1991 bergabung dengan De Amsterdamsche-Rotterdamsche Bank (AMRO) menjadi ABN-AMRO, salah satu perbankan multinasional terbesar di dunia.

Akibat krisis moneter 1998, Bank Exim bersama Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) kemudian digabung dalam proses merger menjadi Bank Mandiri pada hari ini.

Bagaimana dengan nasib institusi Heeren Zeventien? Tujuh Belas Tuan pengelola kongsi dagang ini sebenarnya dikenang bukan hanya kewenangan yang begitu besar, tetapi inovasi mereka menerbitkan surat berharga berupa saham dan obligasi yang dapat dibeli publik, tidak hanya orang kaya tetapi juga orang biasa.

Penerbitan surat berharga publik ini dilakukan oleh apa yang mereka sebut sebagai Amsterdam Effectenbourse atau Bursa Efek Amsterdam yang didirikan pada 1602, tahun yang sama dengan didirikannya VOC. Inilah etimologi bagaimana orang Indonesia menyebut pasar saham sebagai bursa efek.

Bangkrutnya VOC ikut membawa kebangkrutan pada Bursa Efek Amsterdam sehingga dinasionalisasi oleh Pemerintah. Pada tahun 1997, Bursa Efek Amsterdam dimerger dengan European Options Exchange menjadi Euronext Amsterdam.

Euronext Amsterdam pada tahun 2000 digabung dengan Bursa Efek Brussel serta Paris menjadi Euronext, pasar saham terbesar di Eropa dengan nilai kapitalisasi mencapai 3.8 Triliun Euro pada Juni 2020.

Jadi silakan pembaca simpulkan sendiri, apakah 31 Desember 1799 itu VOC bangkrut?

(Ditulis dari berbagai sumber)

Komentar
Tulis Komentar
Kode Acak
Menyajikan berita terhangat dan terpercaya langsung melalui handphone anda
© 2020 Epicentrum. All Rights Reserved.