× Home Politik
Ekonomi
Hukum
Gaya Hidup
Olahraga
Diskursus
Commerce
Video
Serba Serbi
Photo

1.300 Tahun Lalu, Islam di Nusantara Pakai Dinar dan Dirham

09 Februari 2021
Penulis : Joni Andromeda
Share :
Responsive image

epicentrum.co.id - Pemahaman akan pemakaian dinar dan dirham kini menjadi masalah. Apalagi, setelah dikaitkan dengan Pasar Muamalah di Depok yang digagas Zaim Saidi. Dia malah ditangkap dengan tuduhan melanggar undang-udang soal penggunaan mata uang.

Namun, belakangan, ada pendapat yang kontra. Dan ini tidak tanggung-tanggung, dari pakar sejarah DR Ichwan Azhari dari Universitas Negeri Medan. Dia mengatakan bahwa dinar dan dirham sudah dipakai di Sumatra, tepatnya di sebuah desa yang berada tak jauh dari pantai Sumatra Bagian Barat-Utara (searah dengan wilayah Barus).

Jejak pemakaian dinar dan dirham yang sudah terjadi sekitar 1.300 tahun lalu itu ada di desa yang terpencil: Jago-Jago. Pada desa itu ditemukan dinar dan dirham masa dinasti Umayah dan Abassiyah dalam jumlah yang besar. Dan di desa itu pula ditemukan mata uang dari India dan Sriwijaya.

''Uniknya, soal dinar-dirham itu beda dengan yang dipakai pada dinar-dirhamnya Zaim Saidi. Dinar dan dirham yang ditemukan itu adalah mata uang resmi (sah) sebuah negara dengan tanda adanya tanda atau lambang negara. Ini beda dengan dinar-dirham yang dijual belikan oleh Zaim Saidi dalam Pasar Muamalah yang jelas sekali bukan mata uang yang tak ada lambang negaranya,'' katanya.

Agar lebih jelas lagi, tulisan lengkap DR Ichwan Azhari bisa dibaca sebagai berikut:

-------------

"1.300 Tahun Lalu Dinar-Dirham Dipakai untuk Transaksi di Desa Jago Jago Sumatra Utara (Sebelum Indonesia Ada)"


Oleh: DR Ichwan Azhari, Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan, Medan, Sumatra Utara

 

Sedang viral dan heboh di medsos hari belakangan ini perihal penggunaan dinar dan dirham di Depok, Jawa Barat, yang mendapat reaksi dari Bank Indonesia. Undang-undang menyebutkan, dilarang menggunakan mata uang selain rupiah dalam transaksi perdagangan di Indonesia.

Tapi, jauh sebelum Republik Indonesia ada, dinar dan dirham dipakai dibanyak tempat di Nusantara. Dan yang tertua, yang paling jauh jaraknya dari masa kini adalah penggunaan dinar dan dirham di suatu kawasan kosmopolitan kuno di Sumatra Utara, di Desa Jago Jago, Kecamatan Badiri, desa tepi samudra pantai barat Tapanuli Tengah.

Desa yang dalam Indonesia modern kini menyerupai kampung yang terkucil itu tidak bisa dimasuki mobil. Untuk mencapainya, harus jalan kaki melewati jembatan gantung sepanjang 200 meter menyeberangi muara Sungai Lumut.

Koin Dirham abad pertama Hijriyah (abad ke-7 Masehi) temuan warga desa ini dikoleksi dua museum di Medan, yakni Museum Uang Sumatera (MUS) dan Museum Sejarah Al Qur'an Sumatera Utara (Musasu).

Koin Dinar dan dirham kuno dari desa ini ditemukan secara kebetulan oleh warga penambang emas tradisional sejak 2018, jumlahnya mencapai ratusan.

Selain di dua museum yang disebut tadi, sebagian disimpan di Balai Arkeologi Sumatera Utara di Medan, di kantor Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan Tapanuli Tengah di Pandan, Pedir Museum di Aceh, Fadli Zon Library di Jakarta, Sultanat Institut di Solo, dan pada kolektor di Jakarta, Jawa, Aceh, Medan, dan Malaysia.

Tentu, menjadi tanda tanya besar, bahkan misteri, kenapa ratusan koin dinar dan dirham era dinasti Umayyah dan Abassiah ini ditemukan para penambang emas tradisional di desa kecil ini?

Desa yang tidak dikenal saat ini tapi yang lokasinya satu garis lurus berjarak sekitar 70 km sebelah selatan bandar kuno legendaris Barus, Tapanuli Tengah, Sumut.

Desa ini memiliki kawasan bernama Bongal, areal berupa endapan lumpur yang didasarnya, sedalam tiga meter lebih, terdapat bekas permukiman kuno dengan jutaan fragmen peradaban yang mengejutkan di sebuah kota kuno yang hilang.

Situs Bongal di Desa Jago Jago ini pada dasarnya merupakan situs kota perdagangan dan industri kuno yang sangat ramai didatangi ratusan bahkan mungkin ribuan kapal asal Timur Tengah, India, Cina, juga dari wilayah Sriwijaya.

Transaksi moneter internasional juga berlangsung di situs Bongal ini. Bukan hanya koin Umayyah dan Abassiah (7-8 M) yang ditemukan, melainkan juga koin dari India era Pandyas (7-8 M), koin Cina dinasti Tang (7-8 M), serta koin Sriwijaya.

Balai Arkeologi (Balar) Sumatra Utara bekerja sama dengan PT Media Literasi Nesia/Islam Today Jakarta, sejak 18 Januari 2021 sampai hari ini (30 Januari 2021) sedang melakukan eskavasi di situs temuan baru yang luar biasa ini.

Koin Emas Era Umayyah Dan Abbasiyah Ditemukan Di Situs Bongal

Sekalipun berjarak tidak terlalu jauh dari Barus, tapi situs ini dipastikan jauh lebih tua dibanding Barus. Di Barus tidak ditemukan koin dinar-dirham dinasti Umayyah dan Abassiah yang ratusan ditemukan di kampung kecil ini.

Papan pecahan kapal dan permukiman kuno dari situs ini sudah diteliti di laboratorium di Amerika oleh Balar Sumut dengan hasil akurat, terbukti kayunya merupakan jejak peradaban kuno berasal dari abad ke-7 Masehi.

Bukan hanya ditemukan dinar dan dirham di situs spektakuler ini, bahkan alat ukur satuan dinar dan dirham dari Timur Tengah bernama Ukiyyah juga ditemukan. Jadi, ada semacam lembaga keuangan kuno yang mengontrol sistem moneter yang berlangsung di sini.

Penemuan situs yang memenuhi syarat ditetapkan sebagai cagar budaya nasional, bahkan level internasional ini tak lama lagi akan memasuki penulisan baru historiografi Indonesia, khususnya era masuknya peradaban Islam di Indonesia.

Sebuah buku baru berjudul Sejarah Islam di Nusantara, tulisan sejarahwan autodidak Abu Bakar Bamuzaham yang berisi temuan Islam situs Bongal ini segera akan diluncurkan.

Abu Bakar sendiri awalnya seorang jurnalis. Dia adalah direktur lembaga yang mendanai eskavasi Balar ini.

Situs ini menguatkan hipotesis seminar pertama masuknya Islam di Indonesia yang diselenggarakan di Medan pada 1963, "Islam masuk sejak abad pertama di Indonesia". Tempatnya, buktinya belum jelas waktu itu.

Kini, Desa Jago Jago dengan ratusan temuan dinar dan dirhamnya dari abad 7-8 Masehi membuat sejarah akan terperangah. Apalagi, mulai ada tanda-tanda diduga jejak Kristen Nestorian kuno abad 7, artefaknya mulai ditemukan juga di sini.

Di tengah hutan rawa berlumpur, di tepi lobang gali tambang emas tradisional situs Bongal ini, saya, Agustus 2020 yang lalu, terduduk gusar menatap puluhan warga mendulang emas di sela-sela runtuhan tiang permukiman kuno abad ke-7 Masehi.

Dari tepi kotak galian penambang emas itu saya merenung dan kemudian jelas sia-sia, tak menemukan nama Bongal, Jago-Jago, Badiri, dalam literatur kuno mana pun.

Seperti saya paparkan dalam FGD Islam dan jalur rempah di UINSU (22 Desember 2020), dalam peta jalur pelayaran kuno yang saya selidiki, tempat ini tidak terdeteksi. Peta Belanda yang rajin jelajah situs pun kosong tak mencatat tempat ini. Sebuah kota kuno dunia yang tidak terdapat pada peta manapun.

Jadi, apa nama tempat ini dulu?

Tunggulah, sejarah selalu harus ditulis ulang berdasar temuan-temuan terbaru.

------

*Dr. Phil. Ichwan Azhari adalah seorang sejarawan, pengajar, dan ahli filologi Indonesia. Ia merupakan Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan, Medan, Sumatra Utara. Ichwan Azhari juga dipercaya sebagai Ketua Asosiasi Museum Indonesia Sumatra Utara.

(republika)

Komentar
Tulis Komentar
Kode Acak
Menyajikan berita terhangat dan terpercaya langsung melalui handphone anda
© 2020 Epicentrum. All Rights Reserved.