× Home Politik
Ekonomi
Hukum
Gaya Hidup
Olahraga
Diskursus
Commerce
Video
Serba Serbi
Photo

Yogya Resesi karena Pariwisata Lesu, Sultan HB X Sebut Strategi ala Kusir Andong

15 September 2020
Penulis : Muhammad Said
Share :
Responsive image
Sultan Hamengkubuwono X menyatakan penutupan destinasi wisata di Yogyakarta tak efektif cegah virus corona, karena sudah sepi pengunjung. Hal tersebut ia nyatakan usai menggelar rapat terkait wabah virus corona, dengan bupati dan walikota se-DIY di Ndalem

epicentrum.co.id, YOGYAKARTA - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X menuturkan, yang paling mendesak untuk segera dilakukan di masa pandemi adalah menciptakan keseimbangan sektor ekonomi termasuk wisata dengan sektor kesehatan. Hal ini mutlak dilakukan terlebih di masa resesi seperti saat ini.

“Layaknya seorang kusir andong pemula, perlu belajar tarik-ulur tali kekang untuk mengendalikan arah dan laju lari sang kuda,” ujar Sultan saat mengumpulkan kalangan perbankan di DIY guna merumuskan strategi pemulihan perekonomian di masa pandemi Covid-19, Senin (14/9/2020).

Pernyataan Sultan menanggapi laporan pertumbuhan ekonomi DIY yang negatif sepanjang dua kuartal berturut-turut. Seperti Bali yang juga tergantung pada sektor pariwisata, kata Sultan, aktivitas perekonomian di dua daerah tersebut langsung melambat akibat berhentinya sebagian aktivitas manusia. Pertumbuhan ekonomi yang mencapai minus 6,74 persen itu juga memicu inflasi yang rendah.

Lebih jauh, Sultan menjelaskan soal filosofi tarik ulur ala kusir andong itu. Ia mengatakan, di masa pariwisata dan ekonomi menurun ini, inflasi rendah di satu sisi dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Namun, inflasi rendah akibat Covid-19 itu justru mempersulit stabilitas ekonomi karena harga komoditas turun dan pendapatan masyarakat juga rata-rata turun drastis. “Meski harga murah, tetap tidak terjangkau oleh daya beli,” ujarnya. Sebaliknya, jika ketika deflasi, pasti akan disertai penurunan harga dan menurunkan tingkat pendapatan serta laba perusahaan.

Ngarsa Dalem melanjutkan bahwa DIY telah mengalami deflasi per Agustus 2020 sebesar 0.04 persen (month to month/mtm). Deflasi ini terjadi di tengah aktivitas ekonomi yang mulai bergerak, terutama industri pariwisata dan perdagangan ritel.

Angka tersebut menjadikan laju inflasi secara akumulatif hingga Agustus 2020 sebesar 0,68 persen (year to date/ytd) atau 1,64 year on year/yoy) secara tahunan. Sultan pun mengatakan ketika tidak ada banyak pilihan untuk membangkitkan ekonomi itu, ada baiknya untuk menggencarkan modernisasi konsep among tani.

“Kita perlu menyediakan cadangan lumbung pangan yang menciptakan kedaulatan pangan, untuk melawan wabah dengan berkarya di lahan sendiri,” ujar Sultan.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Yogyakarta Hilman Trisnawan mengatakan akibat pandemi ekonomi global terkontraksi pada 2020. “Ekonomi global terkontraksi pada triwulan II 2020 dan diperkirakan masih menurun pada triwulan III 2020, sebelum kembali membaik pada triwulan IV 2020,” kata dia.

Adapun pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2021 akan meningkat, termasuk Indonesia. Hal ini didorong adanya dampak positif kebijakan yang ditempuh di banyak negara tahun 2020.

Hilman mengatakan saat sektor pariwisata seperti Yogyakarta dan Bali sangat terdampak namun sektor pertaniannya justru masih mampu bertumbuh. [tempo]

Komentar
Tulis Komentar
Kode Acak
Menyajikan berita terhangat dan terpercaya langsung melalui handphone anda
© 2020 Epicentrum. All Rights Reserved.