× Home Politik
Ekonomi
Hukum
Gaya Hidup
Olahraga
Diskursus
Commerce
Video
Serba Serbi
Photo

Kopi Gayo Kopi Dunia Kini Tidak Terserap Pasar

22 September 2020
Penulis : Joni Andromeda
Share :
Responsive image
Ilustrasi Biji Kopi. (iStockphoto)

epicentrum.co.id - Kopi Arabika Gayo tercatat sebagai kopi pertama Indonesia yang mendapatkan pengakuan IG atau Indikasi Geografis dari Uni Eropa (EU) sejak tahun 2017.

Indikasi Geografis (IG) merupakan salah satu komponen penting untuk menembus ekspor ke pasar dunia. Masih sedikit komoditas dari Indonesia yang mendapat pengakuan Indikasi Geografis (IG), kopi Arabika Gayo adalah salah satu dari yang sedikit itu.

Sangat penting bagi para pelaku usaha di sektor kopi untuk mendapatkan pengakuan Indikasi Geografis (IG) agar produknya bisa diterima oleh pasar dunia. Hal ini terungkap pada acara Indonesia Coffe Week Opening Ceremony and Coffe Testing of Gayo Arabica Coffe, Senin, 21 September 2020 di Jakarta yang diselenggarakan secara virtual.

Dubes Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam Vincent Piket mengatakan, UE mendukung upaya pemerintah dan para pelaku usaha mengembangkan produk komoditas bersertifikat Indikasi Geogragis (IG). Komoditas yang bersertifikat akan memberi nilai tambah bagi komunitas lokal, berkontribusi menciptakan lapangan kerja dan mendorong kelestarian lingkungan daya dukung komoditas itu sendiri.

Pelaksana tugas Sekretaris Daerah Aceh Tengah Arslan A Wahab mengharapkan ada kontrak dagang yang dihasilkan sehingga bisa ikut menyejahterakan petani kopi Arabika Gayo.

Kopi Gayo Tak Terserap Pasar

Akibat wabah Covid19 di Aceh menyebabkan kopi Gayo khususnya di daerah di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah, tak terserap pasar ekspor. Untuk melindungi petani, pemda mengaktifkan resi gudang yang daya serapnya hanya 20% dari total produksi.

Armiadi, Ketua Asosiasi Produser Fairtrade Indonesia (APFI), di Aceh Tengah, mengatakan wabah Covid19 membuat pasar ekspor kopi terganggu. Selama wabah, kopi yang terserap pasar ekspor hanya 20% dari total volume ekspor sebesar 45.000 ton pada tahun-tahun sebelum wabah. "September-Oktober masuk panen raya, kondisinya akan semakin sulit karena wabah Covid19 belum berakhir,"

Direktur PT. Meukat Komoditi Kopi Iwanni Tossa Putra, pengelola resi gudang untuk wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah, mengatakan, resi gudang untuk menampung kopi petani di Aceh Tengah dan Bener Meriah akan dibuka pada Oktober 2020. Ketersediaan anggaran resi gudang sebesar Rp 20 Milyar "Dengan harga Rp. 50.000 per kilogram, yang bisa kami tampung 400 ton, sementara total produksi 65.000 ton per tahun," katanya.

Komentar
Tulis Komentar
Kode Acak
Menyajikan berita terhangat dan terpercaya langsung melalui handphone anda
© 2020 Epicentrum. All Rights Reserved.